Cerita Prabowo Ke Rosi: Politik Identitas, Leadership dan Keadilan
Dialog malam itu diawali dengan sebuah kesejukan. Sebuah bukti
kenegarawanan yang mahal saat ini. Sikap yang langka dan banyak ditinggalkan
pemuka dinegeri kita. Saat Rosiana Silalahi mengapresiasi tindakan apresiatif
pak Prabowo. Pak Prabowo mengapresiasi kinerja pemerintah dan mendukung
penanganan Palu. Ditanya mengapa mengapresiasi ini penting, jawaban calon
presiden ke delapan Republik Indonesia ini adalah bila sudah menyangkut negara
dan rakyat dalam keaddaan susah dan terancam, memang sudah seharusnya bersatu. Siapapun
pemimpin dan pemerintahnya harus bersatu dan didukung. Jadi itu sikap kami,
kata pak Prabowo.
Kemudian dari dialog menyenangkan yang dilakukan Pak Prabowo
dengan mbak Rosi tadi malam di kediaman beliau bisa disaksikan bagaiamana
demokrasi kita dapat jalankan dan nikmati dalam proses berbangsa. Berkali-kali
saya tulis bagaimana pak Prabowo selalu mengajak untuk menjaga kesejukan dalam
berdemokrasi terlebih di waktu-waktu kita menuju pergantian pemimpin yang
memang sudah seharusnya.
Yang paling menarik buat aku adalah bagaimana pak Prabowo
memaknai isu politik identitas yang bagi sebagian orang dijadikan cara memecah
dan mengambil keuntungan sendiri. Secara tegas beliau sampaikan bahwa dia tidak
akan menyodor-nyodorkan politik idenitas. Bahwa faktanya beliau adalah seorang
muslim yang dekat dengan para ulama itu adalah hal yang normal. Bahwa para
ulama menyatakan dukungan pada Prabowo-Sandi melalui ijtima adalah proses
politik yang wajar. Menarik saat Pak Prabowo menyatakan dengan santai selain
dari komunitas pemuka agama muslim, beliau juga didukung kaum buruh, para
dokter, perawat, tenaga medis dan banyak orang dari kelompok-kelompok lain,
buat aku ini jadi penetapan logika yang masuk akal apa bedanya dengan para
ulama tadi. Bedanya kata pak Prabowo sih ramai-ramainya dimedia saja. Menurut aku
Mungkin media memilah-milah atau diminta untuk sengaja memilih untuk
kepentingan siapa kan kita ga tau.
Sama halnya seperti perbedaan porsi exposure antara
pertemuan pak Prabowo dengan ulama dengan pertemuan beliau bersama 60 tokoh
khatolik di kediamannya, dengan 300 pendeta protestan di hambalang. Buat seorang
leader sekelas pak prabowo bukan gayanya mengotak-ngotak saudara-saudara
sebangsanya. Beliau adalah pensiunan TNI berprestasi yang sudah teruji
bagaiamana kebinakeaan jadi tabiat asli nya sebagai putera bangsa.
Bahwa framing jahat bila seseorang muslim dekat dan intens
dengan tokoh agamanya akan tidak friendly dengan orang dari agama lain. Seperti
my personal experience, karena dikalangan pertemanan aku dikenal sebagai
pengagum dan pendukung pak Prabowo, beberapa teman yang bukan muslim nanya di
DM, WA dkk apakah benar desas desus yang beredar kalau pak Prabowo adalah sosok
yang anti dengan agama lain, bila jadi presiden akan tidak berpihak dengan
saudara-saudara kita non muslim? Ini benar-benar sudah sering aku dengar, maka
senang sekali pada teman-teman yang mau ngobrol dan nanya soal ini. Jawabanyya sudah
ada di paragraph diatas. Tapi pada teman-teman aku sampaikan bahwa pak Prabowo
adalah seorang Purnawirawan Danjen Kopasus, seorang patriot sejati sudah
mengalir didalam darahnya kebhinekaan yang sejati adalah harta paling berharga
bagi kita Indonesia. Bahwa adalah tanpa alasan untuk menuduhkan hal itu,
sederhananya aku send picture aja, sebuah tangkapan moment saat upacara kemerdekaan
17 agustus lalu. Diphoto itu ada pak Prabowo, bang sandi, bu Rachmawati dan
beberapa tokoh lain, mereka sedang berdoa seraya menegadahkan tangan, diujung
barisan itu satu orang bedoa melipat jari, bagaimana seorang protestan bedoa,
dia adalah adik kandung dari pak Prabowo. Aku ga harus menjelaskan lagi, semua
sudah terjawab.
Bangga ketika pak Prabowo juga dengan tegas menyatakan
beliau adalah muslim yang dekat dengan para ulama dan menyuarakan Islam yang
mereka Imani adalah islam yang Rahmatan lil’alamin. Rahmat bahi sekalian alam. Bahwa
seorang muslim sejati adalah yang memperjuangkan keadilan. Jangankan sesama manusia
seluruh alam harus dijaga. Beginilah Pancasila itu diresapi dan mengalir dalam
darah. Sebenarnya kita sebagai Indonesia sudah tak perlu diajarkan
bertoleransi, bahwa itu sudah ada dalam darah kita dan ideology kita memang
mengamanatkan itu.
Bangga akan identitas dan kearifan yang kita punya dari masing-masing
suku, agama, kelompok dan ras adalah hal yang biasa. Bahwa kita memilih
berdasarkan kedekatan identitas adalah juga hal yang biasa. Tidak ada yang
salah. Bahwa bagi kaum muslim diperintahkan untuk memilih pemimimpin yang
juga muslim adalah hal yang juga biasa
dalam berdemokrasi, sah dan dilindungi. Memilih yang bukan berdasarkan
kedekatan identitas juga adalah hal yang biasa.
Ini semua akan berjalan baik dengan satu kata kunci,
leadership. Semua itu terhantung pemimpin. There are no bad soldiers, only bad commander.
Tidak ada rakyat yang ekstrim dan tidak ada rakyat yang panas kalau pemimpinnya
tidak panas. Itu kenapa kearifan pemimpin dan elite sangat penting untuk
memberi sejukan. Bila ada suatu lapisan yang tidak bijak, tidak arif ini yang
berbahaya.
Politik identitas disebut pak Prabowo bisa dibawa kearah
yang baik atau yang tidak. Tergantung pemimpinnya. Apakah berpikir baik dan
positif. Sebagai contoh beliau sampaikan, system politik-ekonomi yang adil. Kajian
empiris dideluruh dunia , semua negara yang berhasil itu yang memliki keadila. Bila
Indonesia dalam keadaan yang adil, semua suku, agama, ras, kelompok etnis
menikmati. Keyakinan nya kalau semua orang sejahtera potensi konflik, iri,
gesekan dan meledak itu berkurang.
Namun kalau banyak orang miskin, tidak cukup air bersih,
tidak cukup protein, anak mereka stunting growth, tidak cukup untuk beli
makanan, bagaiaman dia bisa merasa negara telah mengayomi. Giliran ada orang
datang menghasut bahwa sukunya, agamanya, etnisnya tdak diurus maka dia akan
percaya. Dalam kemelaratan dan penderitaan dan dalam kondisi lapar orang mudah
dihasut dan jadi irasional.
Maka dengan identitas yang dimiliki bangsa ini, tidak akan
terjadi gesekan apapun dengan kepemimpinan yang kuat dan tahu harus apa. Demi terciptanya
keadilan dan kemamuran yang merata. Sederhananya bukan pemandangan baru kok
buat kita saat seorang muslimah berkerudung syar’i berjalan bergandengan dengan
seorang biarawati. Saat dua orang biarawati motornya dibantu perbaiki oleh dua
orang berpakaian santri. Memang begitulah Indonesia. Bahwa menggadang-gadang
intoleransi dan mengaku paling toleran, menuduh orang anti dan mengumumkan dia
paling Pancasila adalah cara yang biasa dipakai nenek moyang gerombolan yang
anti Pancasila sebanarnya, gerombolan PKI.
Bukan Indonesia, bukaan identitas kita.
Semua sangat sederhana. Kita sudah punya dan memang
menjalankan hal baik itu sejak dulu dan kenapa kita masih bisa saling
merangkul. Tapi agar percobaan yang sedang dilancarkan untuk memecah belah itu
demi mengeruk keuntungan dari negeri kita harus kita hentikan dengan memilih
leader yang tidak bersentuhan dengan upaya dan kejahatan itu. dan yang dibutuhkan dari seorang pemimpin
bukan sekedar kesederhanaan. Bahwa kesederhanaan yang dipoles-poles kini
terbukti menyengsarakan.
Seperti candaan pak Prabowo kepada mbak rosi saat sedang dalam
segmen quick question,’’pilih dua ya,
saya plih dua’’. Aku? Kalian? Pilih dua juga.
Yes… TGIF…
Happy weekend Happy People…
SPREAD LOVE
2019 PRABOWO PRESIDEN :)

Comments
Post a Comment