Keangkeran Ucapan Jokowi
Udah ngopi beloooom?
Selamat hari senin Happy People,
Hari ini kita akan mulai cerita kita dengan kopi.
Kalau lihat judulnya, pasti ada yang sudah bisa nebak, kopi apa yang dimaksud…
‘’ saya ya, saya, saya tu dari kecil sampe sekarang, yang ada nyoba rokok, sekali aja ndak pernah. Saya tu ngopi ndak. Ngopi aja ndak apalagi minum. Ngopi aja ndak kok. Ndak pernah ngopi, ndak pernah ngerokok, ga tau ya tapi memang ga seneng’’.
Lalu dengan cepat banyak video-video tersebar luas tentang aktifitas sang bapak itu tadi sedang menikmati kopi, bahkan dengan santai mengabadikan adegan kopi dengan handphonenya diantara orang-orang penting. Bukan soal baru-baru ini, gerombolan nya ngopi-ngopi bareng diajang internasional itu, tapi banyak momen sebelumnya. Lalu apa maksud ucapan dengan penuh keyakinan dihadapan generasi muda Indonesia tempo hari, yang di italic diatas?
Ah… Terlalu personal, tidak berdampak kok, begitu nanti akan lahir macam-macam pembelaan. Ya ga apa apa, wajar, namun kita sekarang sedang membicarakan pemimpin bangsa yang semua tindak tanduknya akan jadi penentu kearah mana kita menapak setelah ini.
Disinilah kisah angker itu kita mulai. Bahwa ucapan adalah hal yang tidak sembarangan terlebih bagi seorang pemimpin. Yang menjadi nahkoda bagi 260jutaan penumpang kapal bernama Indonesia.
Kita ingat lagi soal event internasioanal baru-baru ini. Rapat lembaga keuangan dan perbankan dunia, IMF dan WORLD BANK GROUP. Diperingatan 60 tahun KAA lalu, masih ingat kan kita, pak Jokowi mengajak negara-negara di kawasan Asia dan Afrika mempererat kerja sama dan menciptakan tatanan dunia baru yang berdasarkan keadilan dan kesetaraan. Bahwa pandangan mengenai permasalahan ekonomi dunia hanya bisa diselesaikanIMF,WB dan ADB adalah usang dan bla bla bla, namun kini baru saja usai pesta pora itu. Sentimen akan penyelenggaraannya masih terus dibicarakan karena publik bisa menilai dari nilai penyelenggaraan itu sendiri hingga manfaatnya bagi ekonomi kita apakah benar akan berdampak, sampai ketidak singkronan ucapan Jokowi dari satu waktu dengan waktu lainnya.
Kemudian kembali viral video yang menampilkan pidato yang berisikan keprihatinannya akan nasib petani dengan kondisi urusan impor-impor. Dengan yakin mengatakan ini soal niat dan tidak niat, dengan yakin juga menyebut bahwa petani kita masuk angin karena ulah impor barang-barang yang produski dalam negrinya sedang berlimpah. Hebatnya lagi, ada penekanan pada ketidak setujuannya akan alasan pihak yang mendukung impor, yakni barang-barang tersebut untuk pemenuhan kebutuhan industri, dengan tegas beliau ini memberi bantahan.
Mana? Dipasar semuanya ada. Saya orang lapangan, jadi jangan ngomong seperti itu. Percaya? Saya buktikan, dipasar mana? Didaerah mana? Dilokasi mana? Saya tunjukin, saya bisa menunjukkan itu
Dari situ lantas bagaimana kondisi yang terjadi pada kenyataannya kini? Ga perlu ditulis, we all know.
Dengan mudah kita dapat temukan pembanding antara ucapan dari satu momen pidato atau wawancara dengan data dan kejadian nyata dilapangan, mulai dari headline media mainstream partisan hingga ke-garcep-an netizen membuat bandingnya dengan kreatifitas untuk mempertanyakan dimana kebenaran? Mana yang bisa dipercaya, ucapan seorang kepala negara atau yang dengan sadar mereka lihat dan alami sendiri, mereka abadikan, mereka bagikan dan orang-orang menilai. For example, penjarahan di lokasi bencana.
Masih soal IMF, sampai-sampai pak SBY harus bersusah-susah menjelaskan kembali kondisi yang sebenarnya tentang hutang kita pada IMF. Waduh… Untung ada yang koreksi,mungkin ga baca kali, saya ga tau… komentar seorang news anchor menanggapi hal itu. See, bukan masalah bisa lalu dibetulkan setelahnya tapi ini terlalu sering terjadi. Mulai dari ngopi yang sepela hingga urusan status negara.
Baru juga kita pasti masih ingat soal peringkat Indonesia dalam world happiness report 2017, entah apa maksudnya, rangking kita yang masih di urutan ke 81, mendadak lompat kelas ke peringkat delapan, satunya hilang. Menyajikan data yang jelas-jelas sudah ada saja masih terpelintir, atau dipelintir, atau kepeleset atau apalah kalian jawab sendiri…
Menjadi angker karena bisa datang entah dari mana, lalu juga hilang begitu saja, juga entah kemana. Sering kali presiden hanya terksesan membaca dan kurang paham. Berkali diwawancara, jawaban akan isu yang ditanyakan perwarta malah tidak memberikan penerangan sama sekali. Selain itu angker karena bisa membuat bulu kuduk merinding, sebab kelas kepala negara sering kali nyungsep sampai dasar karena kosong dan yaaa.. boleh lah kalau terdadang bisa memberikan hiburan tersendiri.
Aduh banyak banget ya, kita belum bicara soal janji yang tertuang dalam program, ini baru yang bisa kita kases dengan mudah karena jejak digital memang kejam. Sederhananya, hari ini ngomong apa, eh tau nya apa. Yang patut beliau syukuri adalah media mainstream adalah kawan-kawan nya. Sefatal apapun tidak akan digoreng, like i said before, hanya akan hilang tanpa juntrungan omongan yang angker itu.
Lalu kenapa kita harus risau? Karena ini soal nasib negara, nasib eksistensi bangsa ini dimasa depan, masih mau lanjut apa nyerah dengan keterbatasan pimipinannya menguasai isu apalagi menguasai medan membuat kita bertanya. Semua terserah kita. Bila ucapan saja sudah tak terpegang, belum lagi standar berat seperti kemahiran leadership yang tidak boleh main-main untuk negara sebesar Indonesia. Dalam hal ini aku menjadi sangat penakut. Takut keangkeran ini terulang, takut nalar ku tergerus, takut cita-cita para pendiri bangsa semakin jauh dari angan karena ucapan saja sudah tak terpegang.
Kita semua punya kuasa menghentikan keangkeran ini. Kuasa rakyat, karena dalam demokrasi rakyat adalah penguasa tertinggi.
Mari gunakan kuasa kita untuk menjadi jaminan masa depan bangsa ini. Masa depan yang berjalan dalam keIndonesiaan yang sejati. Indonesia yang tidak terbeli oleh kekuatan manapun diluar Indonesia dengan pemimpin yang kata-katanya adalah jiwanya. Buka sekedar pandai membaca lalu acuh seolah semua orang wajib menjad lupa.
SPREAD LOVE
2019 PRABOWO PRESIDEN
Comments
Post a Comment