Pemimpin Itu Merekatkan. Dia Adalah Prabowo
Bangsa kita memiliki kekayaan tak ternilai dan merupakan anugerah luar biasa, keragaman. Banyak bangsa-bangsa lain didunia yang juga memiliki keunikan atas banyak nya produk kebudayaan warisan nenek moyang tapi tak ada yang semagis Indonesia.
Dalam bentang pulau-pulau yang tak sama bentuk rupanya disatukan dengan kekuatan lautan kita yang kaya membentuk kesatuan bernama Indonesia.
Mari melihat dengan mata terbuka, apakah kita sedang baik-baik saja?
Apakah hati-hati kita masih seperti laut yang menautkan pulau-pulau yang beda?
Kita sekarang terbelah. Memang belum hancur, tapi sudah berkeping. Namun patahan yang paling besar membagi menjadi dua.
Dua patahan yang terbentuk sekitar empat tahun lalu. Masih belum direkatkan, masih belum terlihat upayanya menyatukan.
2014, terbetuk jurang pemisah antara pendukung Prabowo Subianto dan Joko Widodo. Hal yang wajar dalam demokrasi terbaginya pilihan. Empat tahun lalu itu ada dua jagoan yang ditawarkan untuk diberi mandat. Kita menjadi dua, dan itu biasa. Setelah pesta demokrasi dalam pemilihan itu usai apakah kita masih dua atau kembali satu? Jawabnya belum, bahkan dari dua patahan tadi kita coba di retakkan lagi. Entah oleh siapa.
Sebagai pemerintah yang menjalankan kehidupan negara ini, pak Jokowi gagal membuat satu kembali. Gagal membuat dua yang tadi berbeda pilih harus jadi satu karena pemilihan usai dan bersatu untuk membangun Indonesia. Belum ada langkah dalam kepemimpinan beliau yang berarti untuk upaya itu.
Kenyataannya, semakin banyak benturan yang diahadapkan kepada kita sebagai bangsa. Rezim ini tak berhenti hanya memberikan suguhan dan hiburan pada pemujanya semata. Bagaiamana mereka menjadi buta dan gelap dalam bersikap termasuk yang paling menyedihkan terhadap persaudaraan dalam bingkai negaranya.
Mudah sekali dimasa kepemimpinan presiden jokowi orang dicap radikal, mudah sekali menunjuk orang jadi kelihatan keberatan dengan pancasila, seenak jidat memberi predikat makar pada yang berseberangan pada kaum mereka. Bukankah berbeda itu sudah biasa buat kita, tapi kenapa sekarang beda bisa jadi masalah.
Tidak berlebihan rasanya kalau kita sakit hati, karena ada pihak yang memakai ideologi untuk memukul. Jauh dari seharusnya ideologi kita dijadikan kehebatan untuk merangkul dalam perbedaan, siapa saja yang berseberangan akan dilumpuhkan. Benturan antara umat islam dengan pancasila adalah kejatahatan. Dengan bangga membuat opini bahwa yang taat sesuai syariat adalah kelompok radikal dan tidak pancasila. Sementara pancasila sendiiri lahir dari keyakinan umat muslim pada Allah SWT, keyakinan saudara kita kristiani pada tuhannya, ketaatan umat khatolik pada pencipta, begitu juga hindu dan budha. Bagaiamana bisa umat beragama dan metaati perintah tuhannya jadi tidak pancasila sementara ia sedang mengamalkan sila pertamanya.
Alasannya hanya satu sebenarnya, karena tidak mau menjadi satu dalam pikir mereka. Karena tidak mau ikut jadi pemuja, karena kita memilih menjadi Indonesia sebenarnya, karena itu kita jadi radikal buat mereka. Bila memelihara dukungan dengan membenturkan yang tidak mau memihak dengan saudaranya sendiri bahkan dengan nalarnya, maka apa tujuan sebenarnya dari kepemimpinan itu?
Sekarang mari kita lihat bagaimana seorang Prabowo Subianto yang terus menyuarakan kesejukan. Bukan hanya saat momen menjelang perebutan suara di Pilpres, pak Prabowo melakukannya bahkan disaat beliau dijatuhkan. Apa susahnya mengerahkan ribuan anak buah beliau dimasa saat ia akan dipensiun dinikan untuk mempertahankan kekuasaan? Tapi itu bukan prabowo. Selalu memikirkan kondisi rakyat atas semua tindakan dan dan tujuannya.
Cerita masa lalu yang juga menarik bila bicara merekatkan putra bangsa adalah kisah panggila GAM yang dahulu sangat memusuhi dan berambisi menghabisi pak Prabowo. Sang putra bangsa suda kembali dengan tangan terbuka ke ibu pertiwi dan menjadi orang yang berjuang bersama pak Prabowo kini untuk Indonesia. Tak cuma sampai disitu, pak Prabowo sudah menjadi saudara bagi sang mantan panglima GAM karena kecintaan pak Prabowo pada Indonesia ini melunakkan hatinya.
Kembali ke masa kini, kita bisa lihat bagaimana citra FPI yang menjadi musuh bagi banyak orang kini begitu baik dan menampilkan keislaman yang sejati. Ini mulai dari merapatnya pak Prabowo dan orang-orang baik bertujuan memperbaiki kondisi bangsa kita dengan ormas islam yang kini selalu hadir awal untuk banyak misi kemanusiaan. Kemudian image islam konservatif yang coba dibenturkan dengan nasionalisme teredam hebat dengan barisan yang dikomandani beliau yang mendapat dukungan dari para ulama besar hingga dukungan untuk beliau dalam pencapresan melalui ijtima ulama 2. Pak Prabowo berhasil menyematkan tanda resmi bahwa seorang religius ia juga adalah seorang nasionalis, ia juga pancasilais. Tidak ada yang salah dengan itu. Yang salah adalah jika komunis mengaku pancasilais, itu salah total, kebohongan besar.
Maka yang diperlukan dalam konsidi menuju kegentingan yang jangan sampai kita sesalkan suatu saat nanti adalah pemimpin yang mampu dan mau merekatkan setiap organ kebangsaan menjadi tubuh negeri yang utuh. Beda-beda tapi tetap satu.
Menyatukan kembali publik yang terpecah karena pilihan politik adalah masalah leadership. Seperti yang disampaikan pak Prabowo dalam kesempatan wawancara dengan Rosiana Silalahi beberapa waktu lalu. Bila pemimpin itu memberi contoh , guidance, anjuran, pengikutnya pasti akan terpengaruh. Semua itu tergantung pemimpin. There are no bad soldier, only bad commander. Kearifan para pemimpin itu sangat penting, untuk memberi kesejukan.
Selain itu memutus jurang kesenjangan antara anak bangsa selalu jadi tujuan beliau. Keyakinan yang juga beliau sampaikan pada Rosi tempo hari adalah bila seluruh rakyat Indonesia merasa negara mengayominya, maka tidak akan mudah terpecah. Tidak akan saling iri dan tidak akan mudah terprofokasi untuk dipecahkan. Maka menyatukan kembali dua kutub dari pilihan beda itu setelah kontestasi pilpres hanya dapat dilakukan oleh pemimpin yang juga sekuat tenaga menjamin kehadiran negara untuk seluruh rakyat apapun pilihannya dengan adil. Karena yang kita cari adalah pemimpin negara bukan petugas yang ditugaskan memlihara kubunya saja dan mampu serta mau mewujudkan kemammuran bagi seluruh rakyat Indonesia.
Comments
Post a Comment