Dagangan Konsultan Berkedok Survei Kubu Jokowi



Pencitraan,
Strategi yang diyakini masih akan eksis hingga berakhirnya waktu. Pemandangan yang semakin terlihat absurd bagi sebagian orang karena semakin kesini semakin dekat dengan pola pelacuran media.

Independensi dan peran media yang diharapkan berimbang sebagai wujud penerangan bagi rakyat sudah semakin seperti air dipadang pasir. Potensi penyesatan dan penggiringan opini yang nakal sudah jadi pemandangan yang familiar sehari-har kita konsumsi.

Salah satu konten yang juga Dilacurkan media dalam penggiringan opini dan branding bagi pasangan calon adalah dengan publish gila-gilaan hasil survei. Survei yang lalu bisa di kembang biakkan menjadi gimmick meracau demi menjaga nama baik semu pasangan calon dalam grafik elektabilitas demi penghiburan kelompok pemuja dan agenda tipu daya.

Bagaimana tidak, hasil survei yang lahir dari rahim pimpinan yang berkedudukan sebagai konsultan politik salah satu paslon sudah dapat dipastikan tidak lebih dari sekedar ajang promosi kualitas rendah. Bagaimana cara lembaga survei yang pimpinannya duduk pangku-pangkuan dengan paslon sebagai konslutan politik meyakinkan diri mereka menghasilkan survei yang independen? kesadaran rakyat hanya akan melihat itu sebagai muntahan dari perut pemuja yang kekenyangan.

Sekali lagi, pasti hukumnya lembaga survei yang menjadi konsultan politik pasangan calon tidak akan netral. Bagaimana bisa dicerna oleh rakyat saat survei elektabikitas yang didesign terus meroket sementara kenyataan keadaan ekonomi dan kondisi mata uang yang terus nyungsep kedalam liang kegelapan. Sebuah koordinasi yang sangat apik ketika kondisi ekonomi yang terus mencekik batang leher anak negeri ditutup dengan tirai karya para konsultan sandal jepit, kaos oblong, sneakers, hingga sarung tinju kemudian survei dikawinkan silangkan agar petugas media lalu menyiarkan bahwa tidak ada yang harus kita khawatirkan sebagai bangsa dan objek yang mereka promosikan masih pantas dibeli.

Untuk koordinasi antara konsultan politik, survei-surveian dan citra media, presiden kita adalah jagonya. Pekerjaanya untuk ini nyaris sempurna. Walau seandainya koordinasi ini juga bisa diwujudkan dalam peran kepemimpinannya terhadap anak buahnya dalam urusan pangan, biar yang satu udah bilang cukup dan berlebih, yang satu tidak perlu ngotot masukkan barang terus dari luar negeri. Ya memasukkan bahan pangan dari luar negri, biar para penjilat tidak segera alergi membaca tulisan ini, biar nyaman baca sampai habis, aku tidak bilang impor pangan lho ya, I think i’m a good person now.

Belum lagi sejumlah orang yang mengaku-ngaku diri pengamat ternyata adalah konsultan politik yang sedang nyamar. Ini kembar dengan lembaga survei yang ternyata hanya bagian dari konsultan politik yang nyamar untuk kepentingan rezim yang semakin tersingkap penyamarannya. Lihatlah bagaiama koar-koar mereka disocial media untuk menjual diri calon mereka. Seorang yang mengaku pengamat politik dan seorang owner lembaga survei yang sibuk jualan citra petahana. Ah kalian lihat saja di twitter khusunya.

Masih pantaskan rakyat memberikan penghormatan walau dengan sebelah mata pada rangkaian penipuan berkedok data yang seakan diakomodir secara profesional oleh lembaga survei-surveian rangkap jabatan yang terus kepedean menipu ? Semakin tinggi kesadaran rakyat karena kondisi kenyataan yang mereka lewati sehari-hari tidak bisa diperbaiki hanya dengan survei elektabikitas Jokowi yang tinggi, rakyat Indonesia butuh perbaikan kehidupan, bukan penghiburan yang mengaburkan kebenaran.

Heh,, kau stop tipu-tipu ya.
Saat kau menjadi penasehatnya, jangan kau jual daganganmu seolah rakyat sedang pingsan dan tidak tahu yang meroket hanya khayalan tukang bikin strategi bukan pengukur data reality.

Comments

Popular posts from this blog

Singkap Terbuka, Karakter Kepemimpinan Otoriter Jokowi Adalah Nyata

Bicara Penampilan Capres, Pesta Demokrasi Jangan Jadi Pesta Kostum

Media dan Nafsu Penguasa, pemilih masih percaya?