Standar Ganda Gerombolan Jokowi, Gaya Lama Penjual Dusta



Dengan nyungsepnya kredibilitas paslon Capres-Cawapres no urut 01,akibat meroketnya kesadaran Rakyat Indonesia akan kebenaran membuat kubu mereka semakin menggeliat kebingungan. Segala macam cara dilakukan agar hasrat kuasa mereka bisa tersalurkan. Karena gimmick polas poles pencitraan drama sudah semakin tidak laku dan ditinggalkan publik, maka caranya adalah dengan membunuh karakter lawan. Bukan hanya lawan haed to head dalam pesta demokrasi, siapapun yang berpihak pada lawan dan atau yang berkemungkinan tidak mau ikut gerombolan kolam maka akan mereka goyang terus.

Semakin banyaknya masyarakat yang meninggalkan sajian tipu-tipu rezim dan anteknya di media mainstream, semakin hilang daya pikat semua yang mereka jual selama ini. Alhasil, walau terus sorak sorai media bayaran berjalan, menjual segala yang bisa digadai seperti nalar dan kebenaran pun mereka sudi lakukan.

Menjual karya khas kaum cari-carisme dengan tidak memandang akal sehat, hajar saja, yang penting heboh. Setelah lalu akhirnya mereka dihadapkan pada situasi senjata makan tuan, mereka lagi-lagi akan memainkan bunyi asal ngeles yang penting hajar. Ini mereka lakukan dalam tabiat standar ganda yang tidak pernah putus, yang penting gaya-gayaan didepan media dan berhasil mengalihkan isu penting hingga upaya menjatuhkan pihak lain.

Yang baru-baru adalah soal pidato yang membahas realita ketimpangan dan kesenjangan kehidupan sosial diputar balik di goreng hingga gosong untuk menutupi borok rezim yang tidak berhasil menujutup lubang besar pemisah antara sikaya dan simiskin dinegara ini. Kekayaan yang hanya dinikmati oleh segelintir orang yang selama ini disoroti oleh pak Prabowo untuk membuka mata kita semua akan kenyataan yang selama ini ditutupi termasuk pada rezim yang lebih mengayomi warga negara asal sponsor pemimpin boneka ketimbang rakyat aseli Indonesia.

Kegemaran mereka menjilat dan menelan dusta sebagai asupan energi membuat mereka semakin tidak tahu caranya membedakan kebenaran dengan skenario dan angka-angka palsu penghiburan dalam kebutaan nurani. Alergi dengan diskusi sehat dan melihat masyarakat yang tidak beruntung di kehidupannya. Ada juga sesekali datang hanya untuk shooting agenda gimmick, cekrek, cekrek lalu tidak ada hasil apa-apa.

Mati-matian teriak hingga mengakomodir masa nasi bungkus mereka lakukan untuk membuat seseorang terlihat buruk padahal bahan bakar mereka hanyalah potongan video yang sengaja dilompatkan dari konteks besarnya. Menyamarkan kebenaran memang expertnya ada disana, digerombolan itu.

Mempermasalahkan bahasa dan tata krama. Menyebut-nyebut pak Prabowo terpapar barat karena pernah hidup diluar negri. Segala narasi agar nama baik orang yang tidak pernah sekalipun membalas perbuatan keji mereka selama ini dilakukan. Kemudian gemparlah nurani orang -orang Indonesia berakal sehat akan reaksi seorang pemimpin dari mereka yang dengan sadar dan sengaja mengeluarkan kata yang sangat amat tidak pantas dimuka publik. Sambil melakukan makian dalam situasi yang mereka klaim bermartabat itu aksi profokasi pun dilakukan. Kemudian pemain lain dari gerombolan ini melakukan pembelaan dengan standar ganda yang terang-terangan seolah rakyat tidak mengerti apa-apa, ini melecehkan peradaban berpikir kita bangsa Indonesia.

Dengan tidak tahu malu orang ini menyebut pak Prabowo tidak tahu tepo sliro budaya jawa. Sementara bagian dari mereka yang ditugaskan untuk memoblisasi masa didaerah yang ia pimpin sebagai pejabat negara mengeluarkan kata yang sangat mencoreng pesta demokrasi kita yang harusnya sejuk dan gembira. Kata-kata pak Prabowo dalam konteks besar yang mereka sengaja kaburkan, maka apa standar mereka untuk makian yang dilakukan oleh seorang pejabat publik yang tidak sama sekali mencerminkan budaya daerah yang dia pimpin.

Yang penting hajar, yang penting buat suasana mereka solah korban, buat jadi bahan tebar pesona dan menutup kegagalan masif yang dilakukan pemimpin mereka. Standar ganda terus dilakukan maka kebenaran akan membuka wajah asli mereka, walau masih ada saja yang betah menonton akrobat lincah gerombolan sirkus yang baru saja termakan efek samping standar ganda mereka sendiri. ketika sang pemimpin atraksi menggaet penasehat orang-orang yang mereka sisihkan karena mereka anggap musuh ideologi. #MukidiBersama… Aaaaah sudah lah… LOL

SPREAD LOVE
2019 PRABOWO PRESIDEN


Comments

Popular posts from this blog

Singkap Terbuka, Karakter Kepemimpinan Otoriter Jokowi Adalah Nyata

Bicara Penampilan Capres, Pesta Demokrasi Jangan Jadi Pesta Kostum

Media dan Nafsu Penguasa, pemilih masih percaya?